Thursday, May 24, 2012

Kamar 143 Asrama McManemy


           Mentari pagi selalu menyambutku dengan senyuman. Daun-daun berguguran dan burung-burung bernyanyi. Hari itu sangat indah, namun tak seindah hidupku yang suram. Aku tak tau mengapa ibuku membenciku sejak lahir, tak seperti ketiga adikku yang selalu mendapat perlindungannya. Ia seperti merasa bahwa aku bukanlah anak yang terlahir dari rahimnya. Ayahku hanya bisa diam melihat kenyataan. Satu-satunya orang yang masih peduli denganku hanyalah nenekku. Ia yang selalu merawatku dan menemaniku.
          Suatu hari, di rumahku terjadi kebakaran hebat. Banyak sekali korban dalam kejadian itu. Temasuk kedua orang tua dan nenekku. Petir serasa menyambar dengan tiba-tiba. Badai bergoyak menyesak hati. Sangat susah rasanya menghadapi kenyataan.
          Semenjak kejadian itu, aku tinggal di rumah pamanku. Tetapi, sepertinya bibiku tak senang dengan keberadaanku yang pada akhirnya membuat Paman mengirimkan aku ke sebuah asrama bernama Asrama McManemy di debelah utara Kota Yellow Knife yang jauh dari Desa Neil, desa yang kutempati. Pagi-pagi buta kami berangkat dengan sebuah delman. Beberapa jam kemudian, kami sampai di sebuah bangunan bercat putih polos yang terlihat sangat tua. Di depan bangunan itu tertulis, ”Asrama McManemy”. Paman turun dari delman dan membantuku untuk turun. Ia menyerahkanku kepada seorang suster dengan papan nama Elafirda Badillo di asrama tersebut. Kulihat raut wajah Paman yang merasa bersalah. ”Paman!” panggilku tak mau berpisah. Paman hanya membalikkan badannya sebentar dan tersenyum padaku kemudian menaiki delmannya untuk kembali ke desa.
          Suster yang dari tadi berdiri di belakangku mengajakku untuk masuk ke dalam. Aku melewati sebuah lorong yang kelihatan sepi dan menyeramkan untuk dilewati sendiri. Akhirnya, sampailah kami di ruang makan. Ruangan yang sanagt besar dan megah. ”Nak, temui ibu yang duduk di sana,” kata suster Elafirda sambil menunjuk seorang wanita paruh baya. ”Ia adalah kepala sekolah asrama ini, namanya Ms. Emmi,” lanjutnya. Aku berjalan mendekati wanita itu, para murid di asrama itu memperhatikan langkahku bagai burung elang yang siap menerkam mangsanya. Aku telah sampai di hadapan Ms. Emmi. Ia mengelus rambutku yang hitam dan agak bergelombang kemudian menyuruhku memperkenalkan diri, ”Anak manis, perkenalkan pada guru dan teman-temanmu, siapa namamu?,” tanyanya. Aku sedikit gugup, aku tak pernah berkata di depan orang banyak,”Nama saya Nelia Hacwardo. Kalian bisa memanggil saya Elia,” kataku memperkenalkan diri. Ms Emmi benepuk kedua tangnnya dan diikuti oleh guru serta murid-murid. ”Duduklah bersama dua anak kembar itu,” kata Ms. Emmi sambil menunjuk dua anak kembar yang sedang asyik mengobrol. Aku berjalan menghampiri mereka lalu duduk. ”Kau telah kehilangan kedua orang tuamu,kan? Keluargamu juga mengucilkanmu,” kata seorang anak di sebelah kananku dengan tiba-tiba. ”Hehe...maaf,ya. Ia memang biasa begitu,” kata kembarannya.
Hari menjelang malam, anak-anak lain mulai bergegas menuju kamarnya. Suster Elafirda mengantarku ke kamarku. Kamarku berada di pojok bernomor 142 dan menghadap ke arah barat. Di dinding lain, kulihat sebuah kamar bernomor 143 yang terlihat tak terawat menghadap ke arah selatan. Saat aku mengetuk pintu, keluarlah seorang gadis berambut pirang yang ternyata adalah gadis yang duduk denganku dan kembarannya di ruang makan. Kami diam sebentar. Suasana menjadi hening. “Kau tak keberatan,kan kalau kutinggal sekarang?” tanya Suster Elafirda. ”Oh,ya. Silahkan,” jawabku singkat. Setelah suster itu pergi, gadis itu mengajakku masuk ke kamarnya,” Silahkan masuk, maaf agak berantakan. Kau adalah...” – ”Nelia Hacwardo,” kataku mengingatkan. ”Oh,ya. Aku Clai Marine, kau bisa memanggilku Clai dan itu kembaranku, Rine Merine, kau bisa memanggilnya Rine,” katanya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman denganku dan begitu juga dengan Rine. ”Kau tahu kamar bernomor 143 yang menghadap ke selatan itu? Kau pasti penasaran dengan kamar itu. Matamu memancarkan rasa ingin tahumu,” tanya Rine tiba-tiba. Aku tersentak kaget. ”Ya. Kamar itu memang tak berpenghuni sejak 10 tahun yang lalu. Dulu, ada seorang siswi yang menempati kamar itu. Ia sangat cantik da paling disukai di sekolah. Sampai akhirnya, ia mati bunuh diri karena stres dituduh membunuh teman sekamarnya,” jelas Rine. Rasa takut menyelimutiku dan sepertinya begitu juga dengan Clai. ”Tok...tok...tok,” suara ketukan pintu membuyarkan kami. Clai berdiri untuk membuka pintu. Ternyata yang datang tadi adalah Suster May. Ia memberikan seragam, topi dan sebuah jas hitam Asrama McManemy.
          Hari semakin malam, Clai dan Rine mulai terlelap dalam tidur, tetapi tidak denganku, aku tidak bisa tidur. Aku mempercepat tidurku dengan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut putih yang tidak terlalu tebal.
          “Elia! Bangun!” teriak Clai membangunkanku. Secepat kilat, aku langsung mengambil seragamku dam memakainya. Rine memakai dasinya dengan sangat cepat, tetapi aku bingung mengutak-atik dasiku karena aku tak pernah sekalipun memakai dasi. Memegangnya saja tidak pernah. Tiba-tiba, Rine menghampiriku dan membantuku memasang dasi.
          Jam pertama adalah pelajaran Mrs. Lil. Ia mengajarkan pelajaran matematika yang mungkin bisa membuat kami pusing. Sehari di asrama itu cukup membuatku takut dengan ruangan dan lorong-lorong misterius Asrama McManemy. Akhirnya selesai juga hari itu. Kini saatnya untuk makan malam. ”Teman-teman, aku akan mengambil jasku dulu,ya,” kataku setengah berteriak. Murid-murid Asrama McManemy diharuskan memakai jas saat makan malam dimulai.
          Aku berjalan menaiki tangga. Kulihat ruangan sekelilingku sepi, tetapi tidak dengan kamar nomor 143. Aku mendengar suara biola dari dalam sana. Aku tak menghiraukan suara itu. Cepat-cepat aku masuk ke kamar dam mengambil jasku. Perasaan takut bercampur khawatir menghantuiku sampai akhirnya aku telah mendapati diri di ruang makan.
          Setelah makan malam, aku, Clai dan Rine menuju ke kamar. Saat menaiki tangga, aku mendengar alunan biola indah yang sama seperti yang kudengar saat aku mengambil jasku. ”Tunggu! Apa kalian tidak mendengar suara itu?” tanyaku. ”Suara apa?” tanya Rine dengan gayanya yang tetap keren. ”Ahh, kau pasti berhalusinasi,” kata Clai. ”Tidak. Sungguh, suaranya terdengar sangat asli,” jelasku meyakinkan. Namun, kelihatannya, Clai dan Rine tidak mempercayaiku. Saat akan masuk ke dalam kamar, aku melihat seorang gadis berambut panjang dan lurus terkulai berdiri memegang sebuah biola. Aku berusaha untuk tak memandangnya dan bergegas masuk ke kamar.
          Di dalam kamar, kami tak langsung tidur. Kami membicarakan sesuatu tentang kamar 143 yang misterius itu. Aku meminta Rine untuk menceritakan sejarah kamar itu lebih jauh. ”Gadis di kamar 143 itu bernama Brihana, anak kelas 9. Ia meninggal pada tanggal 24 bulan November tahun 1974. Dulu, Mr. Edward pernah bercerita padaku bahwa sebenarnya Brihana masih tinggal di dalam kamar itu. Hobinya bermain biola dan ia sangat suka pelajaran kimia. Maka dari itu, Brihana terkadang datang pada saat pelajaran Mr. Edward, pelajaran kimia,” jelasnya. Kami diam dan memandangi satu sama lain. ”Ah, sudahlah. Ayo tidur,” ajak Rine membuyarkan kami.
          Pagipun tiba. Mentari menyambut kami dengan senyumannya. Kamipun bergegas sarapan dan memulai pelajaran. Hari itu Ms. Flo berhalangan mengajar, maka aku menghabiskan jam pelajaran biologi di perpustakaan. Perpustakaan Asrama McManemy sangat besar dan lengkap. Aku bisa menemukan buku apa saja yang kucari. Saat itu, aku mencari buku daftar nama siswa Asrama McManemy 10 tahun yang lalu, tahun 1974. Setelah lama mencari, akhirnya aku menemukannya. Kubuka perlahan-lahan agar buku tua itu tidak rusak. Pada halaman tengah, kulihat foto seorang anak perempuan yang cantik. Rambutnya hitam dan panjang. Di bawahnya tertulis nama ”Brihana Meymasti”. Aku diam sejenak dan teringat dengan cerita Rine. ”Kau mengenalnya?” tanya Ms. Diame, guru perpustakaan dengan tiba-tiba. ”Oh, tidak. Aku hanya...” aku terdiam, tak tau harus berkata apa. ”Ya. Ibu tau, gadis itu meninggalkan banyak kisah misterius di asrama ini. Sekarang, bisakah kita keluar dari perpustakaan? Ibu ada janji dengan teman ibu,” kata Ms. Diame. ”Oh, ya. Tentu,” jawabku. Siang telah berlalu dan sudah saatnya makan malam.
          Setelah makan malam, aku, Clai dan Rine mengikuti pelajaran tambahan Mr. Edward. Murid yang mengikuti pelajaran tersebut hanya sebelas orang karena banyak murid-murid yang sudah mengantuk dan tidur duluan. 10 menit berlalu, kami masih menunggu di bangku kami masing-masing sambil sesekali menguap. Tiba-tiba, ada seorang gadis masuk ke ruangan kami. Ia mengenakan seragam Asrama McManemy lengkap dengan jasnya, sama seperti kami. ”Oh, murid baru,ya,” kata Moichi, siswi yang paling berani dan paling ceria di kelas itu. Murid yang baru saja masuk itu hanya diam dan kemudian berjalan menuju bangku di sebelahku lalu duduk di situ. Tangannya pucat seperti baru saja meninggal, rambutnya hitam pekat, lurus terulai. ”Oh, ada murid baru, ya,” kata Mr. Edward yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu.
          Mr. Edward memulai pelajaranya. Namun, gadis di sebelahku tetap diam. ”Hey, mana bukumu?” tanyaku memberanikan diri. Ia tetap diam. ”Ijinkan aku untuk mengambilkannya untukmu,” lanjutku. Gadis itu tetap diam. Akhirnya, aku mengambil buku kimia yang ada di dalam tasnya. Buku kimia yang dia bawa bukanlah buku kimia tahun 1981, tetapi buku kimia tahun 1974. aku tak mempedulikan tahun terbitan buku itu. Aku meletakkan buku gadis itu dia atas mejanya. Tiba-tiba, gadis itu memegangku, aku tersentak kaget. Tangannya dingin bagaikan es. ”Elia!” teriak Rine sambil menarik tanganku. ”Ada apa?” tanya Mr. Edward. ”Oh, tidak. Aku hampir saja jatuh,” kataku sambil tersenyum agar Mr. Edward tidak curiga.
          Pelajaran selesai, semua murid keluar kecuali gadis baru yang mengikuti pelajaran tadi. ”Hey, ayo keluar,” ajak Clai pada gadis itu. Gadis itu berdiri dan kemudian meninggalkan ruang kimia. Di depan pintu, gadis itu sempat tersenyum padaku. Senyumannya terlihat manis dengan bibirnya yang merah semerah darah dipadukan dengan kulit wajahnya yang putih. Namun anehnya, aku melihat bercak-bercak darah di pipinya.
          Setelah kejadian itu, kami bertiga masuk ke kamar. Di kamar, aku mendengar lagi sayup-sayup suara biola yang indah, seakan bisa menghantar kami ke surga. Clai dan Rine sepertinya juga mendengarkannya. ”Di kamar 143,” Rine mulai bercerita. ”Siapapun yang membuka pintu kamar itu akan menemui arwah Brihana. Kelihatannya, ia ingin balas dendam dengan cara menghantui asrama ini,” lanjutnya. Sekarang, bukan takut lagi yang kurasakan. Aku menjadi kasihan dengan nasib Brihana. Aku ingin mengembalikan arwahnya agar ia bisa hidup tenang di alam sana.
          Malam telah berlalu dan pagipun menjelang. Hari itu adalah akhir minggu, semua kegiatan mengajar di asrama ini diliburkan. Banyak dari anak-anak Asrama McManemy pulang untuk menemui orang tuanya, tetapi tidak denganku dan dua sahabatku. Kami bertiga telah kehilangan kedua orang tua kami. Akhirnya, kami bertiga sepakat untuk berjalan-jalan di sekitar asrama. Kami pergi ke taman bunga yang tidak jauh dari asrama. Sedang asyik bermain, tiba-tiba Ms. Maggie memanggil kami. Ms. Maggie adalah satu-satunya guru sihir yang ada di asrama kami. ”Aku tahu, kalian punya kemampuan,” kata Ms. Maggie yang memiliki sifat dingin sedingin air yang membeku. ”Kemampuan?” tanyaku. ”Ikuti aku,” kata Ms. Maggie tak mau berpanjang lebar. Ia mengajak kami masuk ke ruangannya. Di sana, kami diajari jurus-jurus handal untuk mengusir hantu. Di akhir pelajarannya, ia berpesan,“Aku percaya kalian pasti bisa mengusir arwah Brihana,” kami diam sejenak. Kami tak percaya Ms. Maggie mempercayai kami untuk mengusir arwah Brihana.
          Seminggu berlalu, kami bertiga sudah lumayan menguasai jurus yang diajarkan Ms. Maggie. Pada pagi hari yang sama ketika Brihana meninggal, kami bertiga dipanggil oleh Ms. Maggie. ”Malam ini adalah saat yang tepat untuk mengusir arwah Brihana. Setiap tanggal kematiannya pukul enam malam tepat, ia akan melakukan bunuh diri lagi dan akan terdengar suara-suara misterius dari kamarnya,” jelasnya. Pukul malam tepat adalah saatnya kami semua makan malam. Semenjak Brihana dituduh membunuh teman sekamarnya, ia tak pernah ikut makan malam bersama teman-temannya yang lain. Ia lebih pilih sendiri di kamar. Sampai akhirnya, ia ditemukan tergantung di shower kamar mandi.
          Hari itu adalah hari paling menegangkan bagi kami. Pukul enam tepat kami sudah bersiap di depan pintu kamar 143. Rine memasukkan kunci dan ”Kreeek,” pintu terbuka perlahan. Di dalam terlihat sepi. Tak ada seorangpun yang terlihat. Tiba-tiba, ”Syut,” aku melihat ada sebuah bayangan hitam melintas cepat di depan kami dan ”dar!” pintu tertup dengan kencang. Dengan cepat, Rine mengucapkan sebuah jurus untuk melindungi kami. ”Donanda Kaitsuke,” katanya. Tiba-tiba, kami mendengar alunan biola kembali dan saat itu, di depan jendela besar berdirilah seorang gadis dengan seragam Asrama McManemy lengkap dengan jas dan topi, sang pemain biola tersebut. ”Brihana,” kataku pelan. Gadis itu hanya diam dan berhenti memainkan biolanya. Ia meletakkan biola itu di atas tempat tidur dan berjalan ke arah kami. Aku dan Clai berjalan mundur, tetapi tidak dengan Rine. Ia terlihat tenang menghadapinya. Brihana terus melangkah maju, tetapi ia tak menyerangku sama sekali. Ia hanya lewat di sebelahku menuju ke kamar mandi. Nampaknya, ia akan melakukan aksi bunuh diri lagi. “Berhenti!” teriakku tak sadar. Brihana berhenti sejenak dan menatap kami. Wajahnya pucat pasi penuh dengan luka dan darah. “Aaaa......,” Clai dan Rine langsung berteriak, mereka ketakutan. Brihana tetap berjalan menuju kamar mandi dan tiba-tiba, terasa ada sesuatu yang menggerakkan tubuhku untuk mencegah Brihana melancarkan aksi bunuh dirinya itu. ”Tunggu,” kataku sambil memegang tangannya yang pucat. Brihana berhenti. ”Kenapa kau lakukan ini semua?” tanyaku. Ia mulai menangis. ”Kau tak tahu apa yang kurasakan. Semua orang mengucilkanku. Semua orang mengira bahwa aku adalah pembunuh,” katanya. ”Kau ini mudah putus asa sekali. Aku merasakannya, aku merasakan apa yang kau rasakan. Ibuku membenciku sejak lahir. Ia tak merasa bahwa aku adalah anaknya. Keluargakupun juga membenciku, tetapi aku tidak menyerah sampai mengahiri hidup dengan bunuh diri sepertimu,” kataku. Tiba-tiba, Brihana memelukku dan akupun membalas pelukannya. ”Elia...” kata Clai dan Rine pelan. Wajah mereka masih terlihat ketakutan dan Clai sampai menangis. ”Sekarang kembalilah kau ke tempat asalmu. Aku percaya, kau akan senang tinggal di sana. Jangan kembali lagi ke asrama McManemy. Berjanjilah padaku. Orang-orang sudah mengerti bahwa sebenarnya bukan kau yang membunuh temanmu,” kataku pada Brihana. ”Baik, tetapi aku mohon jangan biarkan seorangpun menempati kamar ini dan terimakasih. Kau memang teman yang mengerti aku,” kata Brihana sambil berjalan menjauhi kamar mandi menuju ke jendela besar. ”Sekarang, tolong kembalikan aku,” pinta Brihana. ”Baik. Clai, maukah kau menolongnya?” tanyaku. ”Ya,” kemudian ia mengucapkan mantera, ”Obesaka Mocinume,” dan wuss...arwah Brihana pergi. Kurasa ia telah bahagia tingal di sana.
          ”Anak-anak,” teriak Suster Erlina, suster penjaga di Asrama McManemy. “Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya. ”Tidak, kami hanya...”jawab kami bersamaan. ”Sudah, ayo kita makan,” ajaknya. Saat itu, semua orang di Asrama McManemy telah berkumpul di ruang makan. Kami disambut dengan tepuk tangan yang sangat keras dari warga Asrama McManemy. Ms. Emmi selaku kapala sekolah memberikan kami masing-masing sebuah pin penghargaan yang sangat cantik. ”Hey, ini adalah pin yang sangat mahal yang biasa digunakan untuk menghargai jas aseorang pahlawan, hanya orang-orang kaya yang mampu membelinya,” kata Clai senang. ”Ya, kalian adalah pahlawan asrama ini. Kalian telah berhasil mengusir arwah Brihana yang selama ini meresahkan asrama kita,” kata Ms. Emmi. Aku dan kedua temanku hanya tersenyum malu. Berita kami bertiga langsung cepat tersebar ke penjuru kota sampai akhirnya, aku mendapat sebuah surat dari keluargaku, katanya mereka bangga denganku. Mereka minta maaf kerena telah memperlakukanku demikian dan mereka menyuruhku untuk tetap bersekolah di Asrama McManemy karena asrama itu telah merubah hidupku menjadi yang lebih baik.

No comments: