Mentari pagi selalu
menyambutku dengan senyuman. Daun-daun berguguran dan burung-burung bernyanyi. Hari itu
sangat indah, namun tak seindah hidupku yang suram. Aku tak tau mengapa ibuku
membenciku sejak lahir, tak seperti ketiga adikku yang selalu mendapat
perlindungannya. Ia seperti merasa bahwa aku bukanlah anak yang terlahir dari
rahimnya. Ayahku hanya bisa diam melihat kenyataan. Satu-satunya orang yang
masih peduli denganku hanyalah nenekku. Ia yang selalu merawatku dan menemaniku.
Suatu
hari, di rumahku terjadi kebakaran hebat. Banyak sekali korban dalam kejadian
itu. Temasuk kedua orang tua dan nenekku. Petir serasa menyambar dengan tiba-tiba. Badai bergoyak menyesak
hati. Sangat susah rasanya menghadapi kenyataan.
Semenjak kejadian itu, aku
tinggal di rumah pamanku. Tetapi, sepertinya bibiku tak senang dengan
keberadaanku yang pada akhirnya membuat Paman mengirimkan aku ke sebuah asrama
bernama Asrama McManemy di debelah utara Kota Yellow Knife yang jauh dari Desa
Neil, desa yang kutempati. Pagi-pagi buta kami berangkat dengan sebuah delman.
Beberapa jam kemudian, kami sampai di sebuah bangunan bercat putih polos yang
terlihat sangat tua. Di depan bangunan itu tertulis, ”Asrama McManemy”. Paman
turun dari delman dan membantuku untuk turun. Ia menyerahkanku kepada seorang
suster dengan papan nama Elafirda Badillo di asrama tersebut. Kulihat raut
wajah Paman yang merasa bersalah. ”Paman!” panggilku tak mau berpisah. Paman
hanya membalikkan badannya sebentar dan tersenyum padaku kemudian menaiki
delmannya untuk kembali ke desa.
Suster
yang dari tadi berdiri di belakangku mengajakku untuk masuk ke dalam. Aku
melewati sebuah lorong yang kelihatan sepi dan menyeramkan untuk dilewati
sendiri. Akhirnya, sampailah kami di ruang makan. Ruangan yang sanagt besar dan
megah. ”Nak, temui ibu yang duduk di sana,” kata suster Elafirda sambil
menunjuk seorang wanita paruh baya. ”Ia adalah kepala sekolah asrama ini,
namanya Ms. Emmi,” lanjutnya. Aku berjalan mendekati wanita itu, para murid di
asrama itu memperhatikan langkahku bagai burung elang yang siap menerkam
mangsanya. Aku telah sampai di hadapan Ms. Emmi. Ia mengelus rambutku yang
hitam dan agak bergelombang kemudian menyuruhku memperkenalkan diri, ”Anak
manis, perkenalkan pada guru dan teman-temanmu, siapa namamu?,” tanyanya. Aku
sedikit gugup, aku tak pernah berkata di depan orang banyak,”Nama saya Nelia
Hacwardo. Kalian bisa memanggil saya Elia,” kataku memperkenalkan diri. Ms Emmi
benepuk kedua tangnnya dan diikuti oleh guru serta murid-murid. ”Duduklah
bersama dua anak kembar itu,” kata Ms. Emmi sambil menunjuk dua anak kembar
yang sedang asyik mengobrol. Aku berjalan menghampiri mereka lalu duduk. ”Kau
telah kehilangan kedua orang tuamu,kan? Keluargamu juga mengucilkanmu,” kata seorang
anak di sebelah kananku dengan tiba-tiba. ”Hehe...maaf,ya. Ia memang biasa
begitu,” kata kembarannya.
Hari menjelang malam,
anak-anak lain mulai bergegas menuju kamarnya. Suster Elafirda mengantarku ke
kamarku. Kamarku
berada di pojok bernomor 142 dan menghadap ke arah barat. Di dinding lain,
kulihat sebuah kamar bernomor 143 yang terlihat tak terawat menghadap ke arah
selatan. Saat aku mengetuk pintu, keluarlah seorang gadis berambut pirang yang
ternyata adalah gadis yang duduk denganku dan kembarannya di ruang makan. Kami diam sebentar. Suasana menjadi hening. “Kau tak keberatan,kan kalau kutinggal
sekarang?” tanya Suster Elafirda. ”Oh,ya. Silahkan,” jawabku singkat. Setelah
suster itu pergi, gadis itu mengajakku masuk ke kamarnya,” Silahkan masuk, maaf
agak berantakan. Kau adalah...” – ”Nelia Hacwardo,” kataku mengingatkan.
”Oh,ya. Aku Clai Marine, kau bisa memanggilku Clai dan itu kembaranku, Rine
Merine, kau bisa memanggilnya Rine,” katanya sambil mengulurkan tangan untuk
bersalaman denganku dan begitu juga dengan Rine. ”Kau tahu kamar bernomor 143
yang menghadap ke selatan itu? Kau pasti penasaran dengan kamar itu. Matamu
memancarkan rasa ingin tahumu,” tanya Rine tiba-tiba. Aku tersentak kaget. ”Ya.
Kamar itu memang tak berpenghuni sejak 10 tahun yang lalu. Dulu, ada seorang
siswi yang menempati kamar itu. Ia sangat cantik da paling disukai di sekolah.
Sampai akhirnya, ia mati bunuh diri karena stres dituduh membunuh teman
sekamarnya,” jelas Rine. Rasa takut menyelimutiku dan sepertinya begitu juga
dengan Clai. ”Tok...tok...tok,” suara ketukan pintu membuyarkan kami. Clai berdiri untuk membuka
pintu. Ternyata yang datang tadi adalah Suster May. Ia memberikan seragam, topi
dan sebuah jas hitam Asrama McManemy.
Hari semakin malam, Clai dan Rine mulai
terlelap dalam tidur, tetapi tidak denganku, aku tidak bisa tidur. Aku
mempercepat tidurku dengan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut putih yang
tidak terlalu tebal.
“Elia! Bangun!” teriak Clai
membangunkanku. Secepat kilat, aku langsung mengambil seragamku dam memakainya.
Rine memakai dasinya dengan sangat cepat, tetapi aku bingung mengutak-atik
dasiku karena aku tak pernah sekalipun memakai dasi. Memegangnya saja tidak
pernah. Tiba-tiba, Rine menghampiriku dan membantuku memasang dasi.
Jam pertama adalah
pelajaran Mrs. Lil. Ia mengajarkan pelajaran matematika yang mungkin bisa
membuat kami pusing. Sehari di asrama itu cukup membuatku takut dengan ruangan
dan lorong-lorong misterius Asrama McManemy. Akhirnya selesai juga hari itu.
Kini saatnya untuk makan malam. ”Teman-teman, aku akan mengambil jasku
dulu,ya,” kataku setengah berteriak. Murid-murid Asrama McManemy diharuskan
memakai jas saat makan malam dimulai.
Aku
berjalan menaiki tangga. Kulihat ruangan sekelilingku sepi, tetapi tidak dengan
kamar nomor 143. Aku mendengar suara biola dari dalam sana. Aku tak
menghiraukan suara itu. Cepat-cepat aku masuk ke kamar dam mengambil jasku.
Perasaan takut bercampur khawatir menghantuiku sampai akhirnya aku telah
mendapati diri di ruang makan.
Setelah makan
malam, aku, Clai dan Rine menuju ke kamar. Saat menaiki tangga, aku mendengar
alunan biola indah yang sama seperti yang kudengar saat aku mengambil jasku.
”Tunggu! Apa kalian tidak mendengar suara itu?” tanyaku. ”Suara apa?” tanya
Rine dengan gayanya yang tetap keren. ”Ahh, kau pasti berhalusinasi,” kata
Clai. ”Tidak. Sungguh, suaranya terdengar sangat asli,” jelasku meyakinkan.
Namun, kelihatannya, Clai dan Rine tidak mempercayaiku. Saat akan masuk ke
dalam kamar, aku melihat seorang gadis berambut panjang dan lurus terkulai berdiri
memegang sebuah biola. Aku berusaha untuk tak memandangnya dan bergegas masuk
ke kamar.
Di dalam kamar, kami tak
langsung tidur. Kami membicarakan sesuatu tentang kamar 143
yang misterius itu. Aku meminta Rine untuk menceritakan sejarah kamar itu lebih
jauh. ”Gadis di kamar 143 itu bernama Brihana, anak kelas 9. Ia meninggal pada
tanggal 24 bulan November tahun 1974. Dulu, Mr. Edward pernah bercerita padaku
bahwa sebenarnya Brihana masih tinggal di dalam kamar itu. Hobinya bermain
biola dan ia sangat suka pelajaran kimia. Maka dari itu, Brihana terkadang
datang pada saat pelajaran Mr. Edward, pelajaran kimia,” jelasnya. Kami diam
dan memandangi satu sama lain. ”Ah, sudahlah. Ayo tidur,” ajak Rine membuyarkan
kami.
Pagipun tiba.
Mentari menyambut kami dengan senyumannya. Kamipun bergegas sarapan dan memulai
pelajaran. Hari itu Ms. Flo berhalangan mengajar, maka aku menghabiskan jam
pelajaran biologi di perpustakaan. Perpustakaan Asrama McManemy sangat besar
dan lengkap. Aku bisa menemukan buku apa saja yang kucari. Saat itu, aku
mencari buku daftar nama siswa Asrama McManemy 10 tahun yang lalu, tahun 1974.
Setelah lama mencari, akhirnya aku menemukannya. Kubuka perlahan-lahan agar
buku tua itu tidak rusak. Pada halaman tengah, kulihat foto seorang anak
perempuan yang cantik. Rambutnya hitam dan panjang. Di bawahnya tertulis nama
”Brihana Meymasti”. Aku diam sejenak dan teringat dengan cerita Rine. ”Kau
mengenalnya?” tanya Ms. Diame, guru perpustakaan dengan tiba-tiba. ”Oh, tidak.
Aku hanya...” aku terdiam, tak tau harus berkata apa. ”Ya. Ibu tau, gadis itu
meninggalkan banyak kisah misterius di asrama ini. Sekarang, bisakah kita
keluar dari perpustakaan? Ibu ada janji dengan teman ibu,” kata Ms. Diame. ”Oh,
ya. Tentu,” jawabku. Siang telah berlalu dan sudah saatnya makan malam.
Setelah
makan malam, aku, Clai dan Rine mengikuti pelajaran tambahan Mr. Edward. Murid
yang mengikuti pelajaran tersebut hanya sebelas orang karena banyak murid-murid
yang sudah mengantuk dan tidur duluan. 10 menit berlalu, kami masih menunggu di
bangku kami masing-masing sambil sesekali menguap. Tiba-tiba, ada seorang gadis
masuk ke ruangan kami. Ia mengenakan seragam Asrama McManemy lengkap dengan
jasnya, sama seperti kami. ”Oh, murid baru,ya,” kata Moichi, siswi yang paling
berani dan paling ceria di kelas itu. Murid yang baru saja masuk itu hanya diam
dan kemudian berjalan menuju bangku di sebelahku lalu duduk di situ. Tangannya
pucat seperti baru saja meninggal, rambutnya hitam pekat, lurus terulai. ”Oh,
ada murid baru, ya,” kata Mr. Edward yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan
pintu.
Mr. Edward
memulai pelajaranya. Namun, gadis di sebelahku tetap diam. ”Hey, mana bukumu?”
tanyaku memberanikan diri. Ia tetap diam. ”Ijinkan aku untuk mengambilkannya
untukmu,” lanjutku. Gadis itu tetap diam. Akhirnya, aku mengambil buku kimia
yang ada di dalam tasnya. Buku kimia yang dia bawa bukanlah buku kimia tahun
1981, tetapi buku kimia tahun 1974. aku tak mempedulikan tahun terbitan buku
itu. Aku meletakkan buku gadis itu dia atas mejanya. Tiba-tiba, gadis itu
memegangku, aku tersentak kaget. Tangannya dingin bagaikan es. ”Elia!” teriak
Rine sambil menarik tanganku. ”Ada apa?” tanya Mr. Edward. ”Oh, tidak. Aku hampir saja jatuh,”
kataku sambil tersenyum agar Mr. Edward tidak curiga.
Pelajaran selesai, semua murid keluar
kecuali gadis baru yang mengikuti pelajaran tadi. ”Hey, ayo keluar,” ajak Clai
pada gadis itu. Gadis itu berdiri dan kemudian meninggalkan ruang kimia. Di
depan pintu, gadis itu sempat tersenyum padaku. Senyumannya terlihat manis
dengan bibirnya yang merah semerah darah dipadukan dengan kulit wajahnya yang
putih. Namun anehnya, aku melihat bercak-bercak darah di pipinya.
Setelah kejadian itu, kami
bertiga masuk ke kamar. Di kamar, aku mendengar lagi sayup-sayup suara biola
yang indah, seakan bisa menghantar kami ke surga. Clai dan Rine sepertinya juga
mendengarkannya. ”Di kamar 143,” Rine mulai bercerita. ”Siapapun yang membuka
pintu kamar itu akan menemui arwah Brihana. Kelihatannya, ia ingin balas dendam dengan cara
menghantui asrama ini,” lanjutnya. Sekarang, bukan takut lagi
yang kurasakan. Aku menjadi kasihan dengan nasib Brihana. Aku ingin
mengembalikan arwahnya agar ia bisa hidup tenang di alam sana.
Malam
telah berlalu dan pagipun menjelang. Hari itu adalah akhir minggu, semua
kegiatan mengajar di asrama ini diliburkan. Banyak dari anak-anak Asrama
McManemy pulang untuk menemui orang tuanya, tetapi tidak denganku dan dua
sahabatku. Kami bertiga telah kehilangan kedua orang tua kami. Akhirnya, kami
bertiga sepakat untuk berjalan-jalan di sekitar asrama. Kami pergi ke taman
bunga yang tidak jauh dari asrama. Sedang asyik bermain, tiba-tiba Ms. Maggie
memanggil kami. Ms. Maggie adalah satu-satunya guru sihir yang ada di asrama
kami. ”Aku tahu, kalian punya kemampuan,” kata Ms. Maggie yang memiliki sifat
dingin sedingin air yang membeku. ”Kemampuan?” tanyaku. ”Ikuti aku,” kata Ms.
Maggie tak mau berpanjang lebar. Ia mengajak kami masuk ke ruangannya. Di sana,
kami diajari jurus-jurus handal untuk mengusir hantu. Di akhir pelajarannya, ia
berpesan,“Aku percaya kalian pasti bisa mengusir arwah Brihana,” kami diam
sejenak. Kami tak percaya Ms. Maggie mempercayai kami untuk mengusir arwah
Brihana.
Seminggu
berlalu, kami bertiga sudah lumayan menguasai jurus yang diajarkan Ms. Maggie.
Pada pagi hari yang sama ketika Brihana meninggal, kami bertiga dipanggil oleh
Ms. Maggie. ”Malam ini adalah saat yang tepat untuk mengusir arwah Brihana.
Setiap tanggal kematiannya pukul enam malam tepat, ia akan melakukan bunuh diri
lagi dan akan terdengar suara-suara misterius dari kamarnya,” jelasnya. Pukul
malam tepat adalah saatnya kami semua makan malam. Semenjak Brihana dituduh
membunuh teman sekamarnya, ia tak pernah ikut makan malam bersama
teman-temannya yang lain. Ia lebih pilih sendiri di kamar. Sampai akhirnya, ia
ditemukan tergantung di shower kamar mandi.
Hari itu
adalah hari paling menegangkan bagi kami. Pukul enam tepat kami sudah bersiap
di depan pintu kamar 143. Rine memasukkan kunci dan ”Kreeek,” pintu terbuka
perlahan. Di dalam terlihat sepi. Tak ada seorangpun yang terlihat. Tiba-tiba,
”Syut,” aku melihat ada sebuah bayangan hitam melintas cepat di depan kami dan
”dar!” pintu tertup dengan kencang. Dengan cepat, Rine mengucapkan sebuah jurus
untuk melindungi kami. ”Donanda Kaitsuke,” katanya. Tiba-tiba, kami mendengar
alunan biola kembali dan saat itu, di depan jendela besar berdirilah seorang
gadis dengan seragam Asrama McManemy lengkap dengan jas dan topi, sang pemain
biola tersebut. ”Brihana,” kataku pelan. Gadis itu hanya diam dan berhenti
memainkan biolanya. Ia meletakkan biola itu di atas tempat tidur dan berjalan
ke arah kami. Aku
dan Clai berjalan mundur, tetapi tidak dengan Rine. Ia terlihat tenang
menghadapinya. Brihana terus melangkah maju, tetapi ia tak menyerangku sama
sekali. Ia hanya lewat di sebelahku menuju ke kamar mandi. Nampaknya, ia akan melakukan aksi bunuh diri lagi. “Berhenti!” teriakku tak
sadar. Brihana berhenti sejenak dan menatap kami. Wajahnya pucat pasi penuh
dengan luka dan darah. “Aaaa......,” Clai dan Rine langsung berteriak, mereka
ketakutan. Brihana tetap berjalan menuju kamar mandi dan tiba-tiba, terasa ada
sesuatu yang menggerakkan tubuhku untuk mencegah Brihana melancarkan aksi bunuh
dirinya itu. ”Tunggu,” kataku sambil memegang tangannya yang pucat. Brihana
berhenti. ”Kenapa kau lakukan ini semua?” tanyaku. Ia mulai menangis. ”Kau tak
tahu apa yang kurasakan. Semua orang mengucilkanku. Semua orang mengira bahwa aku
adalah pembunuh,” katanya. ”Kau ini mudah putus asa sekali. Aku merasakannya,
aku merasakan apa yang kau rasakan. Ibuku membenciku sejak lahir. Ia tak merasa
bahwa aku adalah anaknya. Keluargakupun juga membenciku, tetapi aku tidak
menyerah sampai mengahiri hidup dengan bunuh diri sepertimu,” kataku. Tiba-tiba,
Brihana memelukku dan akupun membalas pelukannya. ”Elia...” kata Clai dan Rine
pelan. Wajah mereka masih terlihat ketakutan dan Clai sampai menangis.
”Sekarang kembalilah kau ke tempat asalmu. Aku percaya, kau akan senang tinggal
di sana. Jangan kembali lagi ke asrama McManemy. Berjanjilah padaku.
Orang-orang sudah mengerti bahwa sebenarnya bukan kau yang membunuh temanmu,”
kataku pada Brihana. ”Baik, tetapi aku mohon jangan biarkan seorangpun
menempati kamar ini dan terimakasih. Kau memang teman yang mengerti aku,” kata
Brihana sambil berjalan menjauhi kamar mandi menuju ke jendela besar.
”Sekarang, tolong kembalikan aku,” pinta Brihana. ”Baik. Clai, maukah kau
menolongnya?” tanyaku. ”Ya,” kemudian ia mengucapkan mantera, ”Obesaka
Mocinume,” dan wuss...arwah Brihana pergi. Kurasa ia telah bahagia tingal di
sana.
”Anak-anak,”
teriak Suster Erlina, suster penjaga di Asrama McManemy. “Apa yang kalian
lakukan di sini?” tanyanya. ”Tidak, kami hanya...”jawab kami bersamaan. ”Sudah,
ayo kita makan,” ajaknya. Saat itu, semua orang di Asrama McManemy telah
berkumpul di ruang makan. Kami disambut dengan tepuk tangan yang sangat keras
dari warga Asrama McManemy. Ms. Emmi selaku kapala sekolah memberikan kami
masing-masing sebuah pin penghargaan yang sangat cantik. ”Hey, ini adalah pin
yang sangat mahal yang biasa digunakan untuk menghargai jas aseorang pahlawan,
hanya orang-orang kaya yang mampu membelinya,” kata Clai senang. ”Ya, kalian
adalah pahlawan asrama ini. Kalian telah berhasil mengusir arwah Brihana yang
selama ini meresahkan asrama kita,” kata Ms. Emmi. Aku dan kedua temanku hanya
tersenyum malu. Berita kami bertiga langsung cepat tersebar ke penjuru kota
sampai akhirnya, aku mendapat sebuah surat dari keluargaku, katanya mereka
bangga denganku. Mereka minta maaf kerena telah memperlakukanku demikian dan
mereka menyuruhku untuk tetap bersekolah di Asrama McManemy karena asrama itu
telah merubah hidupku menjadi yang lebih baik.
No comments:
Post a Comment