Saturday, May 26, 2012

Pembunuhan Kamar 143

        Namaku Brihana Maymesti. Lima tahun sudah aku menempati kamar ini, kamar di sebuah asrama berhantu bernama Asrama McManemy. Aku seorang gadis yang sangat menyukai biola, bahkan aku mempunyai sebuah biola yang selalu kubawa kemana-mana. Aku tinggal di kamar ini bersama seorang teman yang tak kalah cantik dengan Ratu Cleopatra, ia bernama Lanmy Mosta. Kami adalah sahabat akrab mulai dari pertama kali kami bertemu. Ia adalah seorang gadis yang sangat pandai yang selalu mengenakan kaca mata dan selalu membawa sebuah buku yang hanya aku dan dia saja yang tau.
        Malam itu adalah malam yang sangat indah. Aku dan sahabatku sepakat untuk berjalan-jalan sebentar sebelum makan malam. Bulan menyinari jalan kami menuju ke sebuah taman besar di depan asrama. "Lihat bintang itu....," kata Lanmy. "itu adalah kau dan yang di sebelah sana adalah aku. Kita tak akan berpisah seperti bintang kembar itu," lanjut Lanmy sambil menunjuk dua buah bintang. Aku mengamati kedua bintang itu. Bintang yang satu redup dan yang lainnya sangat terang. Suatu saat, bintang yang redup itu menutupi bintang yang terang itu. "Teng...Teng...Teng...," suara lonceng tanda makan malam berbunyi. Aku dan Lanmy berlari secepatnya menuju ruang makan. Banyak murid-murid asrama yang sudah berkumpul di sana dan begitu juga dengan penghuni-penghuni asrama yang lain. Tetapi, ada seorang guru yang tidak mengikuti acara makan malam itu. Ia adalah Mr. Joe. "Hey, mana Mr. Joe?" tanya Lanmy. "Iya...biasanya Mr. Joe tak pernah ketinggalan untuk mengikuti makan malam," sambung Dinn. "Ia sedang sibuk merencanakan sesuatu," kata Bell, kembaran Dinn yang pintar sekali meramal.
         Makan malam sudah berlalu. Kini saatnya kami semua untuk kembali ke kamar untuk tidur. Malam itu Bell menyuruhku untuk berjaga-jaga. Ia melihat sesuatu yang aneh saat makan malam tadi dan sepertinya hal tersebut akan menimpaku dan sahabatku, Lanmy. Malam semakin dingin ditambah embusan angin yang bergerak tanpa tujuan. Makin malam Asrama McManemy terlihat makin angker, dengan bangunan tua berumur 100 tahun dengan cat putih polos. Malam itu aku hanya duduk di sebuah kursi goyang di depan jendela kamar sambil memainkan biolaku. Tak tahu apa yang menghantarku, aku menjadi ingin sekali untuk pergi ke taman belakang Asrama McManemy. Akhirnya, aku meninggalkan sahabatku untuk pergi ke taman belakang yang tidak begitu jauh dari kamarku. Langkah demi langkah kutempuh, tetapi saat akan menuruni tangga, aku mendengar suara teriakan dari kamarku. Secepat kilat aku berlari menuju kamar. Betapa kagetnya aku saat kulihat sesosok pria menggunakan topeng putih yang sedang mencoba untuk membunuh sahabatku. Di bawah lelaki itu tergeletak seorang gadis sekarat yang berlumuran darah. "Lanmy!!!!!!" Teriakku. Lelaki itu langsung berlari kemudian keluar melalui jendela kamarku yang lumayan besar. Aku langsung memeluk Lanmy yang sekarat itu. "Ingatlah, aku tak-kan me-ninggalkan-mu, a-ku tak-kan per-gi da-ri-mu," kata Lanmy. Kata yang selalu terdengar di telingaku. Kata terakhir dari seorang sahabat.
          "Lanmy, Brihana!!!!" Teriak suster Ela tiba-tiba. Ia terlihat sangat pucat ketika melihat Lanmy tergeletak di lantai dan berlumuran darah. Aku hanya bisa diam dan menangis. "Apa yang kau lakukan pada temanmu?" tanya Suster Ela. "Ak...aku...aku tak," aku tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Tiba-tiba, Mr. Joe datang. "Ia telah membunuh Lanmy. Aku yang melihatnya sendiri," kata Mr. Joe sambil menunjuk ke arahku. Aku sangat terkejut. Mengapa Mr. Joe menuduhku? Apa maksudnya? Padahal, Mr. Joe tak ada di tempat kejadian saat pembunuhan itu. Benar apa yang dikatakan Bell. Sebuah kesialan besar bagiku.
         Semenjak saat itu, seluruh warga Asrama McManemy memusuhiku. Selalu kulihat teman-temanku memalingkan muka bahkan berlari menjauhiku saat aku menyapa mereka dan ketika aku berpapasan dengan Mr. Joe, ia selalu memperlihatkan senyum liciknya. Malam itu adalah malam kesekian sesudah sahabatku pergi. Aku sendiri di kamar, meskipun itu adalah jam makan malam. Semenjak Lanmy pergi, aku tak pernah ikut makan malam dengan teman-teman. Sekali aku mengikuti acara makan malam itu, tetapi mereka malah mengejek dan menjauhiku. Aku duduk di kursi goyang di depan jendela besar sambil memainkan biola kesayanganku. Angin berhembus sepoi-sepoi dari luar. Bulan purnama dan bintang-bintang menemani malamku. Saat kulihat ke arah luar jendela, tiba-tiba aku melihat sosok gadis yang mirip sahabatku, Lanmy. Kucoba untuk mengamati gadis itu.
          Angin semilir berhembus entah dari mana. Serasa angin itu menyuruhku untuk mendekati gadis misterius itu. Akhirnya, aku keluar kamar menuju ke taman itu. Di sana telihat sepi dan suram. Malam itu memang berkabut, tetapi suasana di sekitar asrama berubah menjadi lebih aneh dan misterius. Dari balik kabut, kulihat seorang gadis berjalan sambil menundukan kepalanya ke arahku. Aku ingin pergi, tetapi sesuatu menahanku. Gadis itu makin dekat, sampai akhirnya aku melihat wajahnya dan menyadari bahwa itu adalah Lanmy. "Lanmy...kau Lanmy,kan??" tanyaku pelan. Gadis itu hanya diam dan terus melangkah mendekatiku. Aku hanya memperhatikan langkah kakinya sampai akhirnya dia tepat berada di depanku. Deg....Tiba-tiba ia melihatku dengan tajam. Wajah yang penuh dengan darah dan luka yang menjijikkan. Lalu, ia menyentuhku dan...aku merasa hilang entah kemana.
         Hari menjelang pagi, aku telah mendapati diriku tertidur di atas kasurku. Secepat kilat, kau langsung berlari menuju jendela besar. Kulihat ke arah taman di dekat kamarku dimana aku melihat Lanmy. "Bri.." kata seseorang di belakangku. Aku menoleh ke belakang dan kulihat Lanmy berdiri di belakangku. "Lan...my?" tanyaku tak percaya. "Hihihi..." dia hanya tertawa kecil kemudian berlari keluar kamar meninggalkanku. "Hey...tunggu!!!" teriakku sambil mengejarnya. Saat aku keluar dari kamar, aku kehilangan jejak Lanmy. Kemudian, kudengar lagi suara tawa kecil seoran gadis dari dalam kamarku. Aku berlari memasuki kamar dan kulihat Lanmy keluar kamar dengan menjatuhkan dirinya keluar jendela besar. "Lanmy!!!!" teriaku. Serontak, beberapa penghuni kamar lain keluar dari kamarnya masing-masing menghampiri kamarku. "Ada apa?" tanya Dinn. "....," aku tak bisa menjawab apa-apa. Lalu, Bell menghampiriku. "Aku tahu. Lanmy sudah kembali," bisiknya.
         Hari itu telah berlalu. Sejak kejadian itu, aku sering sekali melihat Lanmy mondar-mandir di kamarku dan di taman dekat jendela besar. Senang rasanya aku masih bisa melihat sobatku, tetapi sangat sakit kurasa saat menyadari bahwa itu hanyalah bayangan. Sampai suatu hari, aku merasa sangat tersiksa dengan keadaan ini. Aku sudah tak kuat menahan semuanya. Semua yang kulihat dari Lanmy sekarang hanyalah bayangan belaka. Malam yang sama, ketika semua murid Asrama McManemy makan malam, tepatnya pukul 06.00 malam tepat, aku bunuh diri. Aku menggantung diriku di shower kamar mandi. Beberapa hari kemudian, seorang suster menemukan jasadku. Tetapi, sebenarnya aku dan Lanmy tak pergi dari kamar itu. Kami berdua masih menempati kamar tersebut sampai akhirnya Lanmy yang pergi dari kamar itu karena perdebatan dasyat di antara kami.
         Sepuluh tahun telah berlalu. Sudah banyak murid-murid baru yang datang ke asrama ini, tetapi beberapa dari mereka keluar dari asrama ini karena tak sengaja melihatku.Sampai 10 tahun berlalu, ada seorang murid baru bernama Nelia Hacwardo yang berhasil menyadarkanku atas apa yang telah terjadi. Semenjak itu, aku pergi dari Asrama McManemy untuk mencari Lanmy dan minta maaf kepadanya.

No comments: